KHASANAH

YAYASAN AL-INSANUL KAMIL

Abdul Wahid Al-Faizin (Bendahara Yainkam)
Jumat, 15 Januari 2016
Menggali Teori Entrepreneurship dan Strategi Bisnis dari Surah Quraisy (Bagian 5)*

Kajian Tafsir Ekonomi Al-Qur’an:
Menggali Teori Entrepreneurship dan Strategi Bisnis dari Surah Quraisy (Bagian 5)*
Oleh : Abdul Wahid Al-Faizin (Bendahara Yainkam)

V. Tafsir Ayat الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Menurut Al-Zuhaili, Ayat ke empat ini memiliki kaitan dengan surah sebelumnya yaitu sūrah al-Fiil. Dalam ayat ini Allah menjelaskan dua nikmat besar yang telah dianugerahkan kepada suku Quraisy.Pertama, nikmat yang berupa keberhasilan mereka dalam berniaga, sehingga meski mereka tinggal di negara yang tandus namun kebutuhan makan mereka tercukupi.Nikmat pertama ini adalah inti sari dari lafazhالَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar).Kedua, terhindarnya Makkah dari gempuran tentara gajah yang dikirim oleh raja Abrahah sebagaimana yang dijelaskan dalam sūrah al-Fiil.Dengan diselamatkannya Makkah dari gempuran tersebut, penduduk Makkah bisa hidup dengan damai dan tanpa rasa takut.Nikmat kedua ini adalah inti sari dari lafazhوَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (mengamankan mereka dari ketakutan).
Konsep utama yang dapat kita gali dari ayat ke-empat ini adalah Tawakkal.Di mana pada ayat-ayat sebelumnya Allah berbicara tentang beberapa usaha atau ikhtiar yang telah dilakukan oleh suku Quraisy dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka yang tinggal di daerah tandus. Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa meski secara kasat mata terpenuhinya kebutuhan tersebut berkat usaha mereka sendiri, akan tetapi pada hakikatnya Allah-lah yang memberi mereka makan.
Dalam konteks tawakkal ini, manusia hanya diberi wewenang oleh Allah untuk berikhtiar semampu mereka.Namun pada akhirnya, Allah-lah yang menentukan rizki mereka.Oleh karena itu, dalam rangka melakukan ikhtiar dalam sebuah bisnis misalnya, manusia tidak diperkenankan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.Urusan bisnisnya juga jangan sampai menyebabkan dia lalai terhadap ibadah pada Allah. Rasulullah bersabda
أَيُّهَا النَّاسُ , اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا , وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ.
“Wahai manusia takutlah kalian pada Allah dan perbaikilah cara dalam mencari rizki. Karena sesungguhnya seorang manusia tidak akan mati kecuali telah mendapatkan rizki yang ditentukan untuknya, meski dengan cara yang lambat. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada Allah serta perbaikilah cara dalam mencari rizki. Ambillah sesuatu yang halal serta tinggalkanlah sesuatu yang haram”. (HR. Ibnu Mājah)
Di antara implikasi dari konsep tawakkal dalam bisnis yang dapat kita gali dari ayat ini adalah keberanian untuk mengambil risiko (risk taking).Konsep risk taking yang merupakan ciri utama dari seorang entrepreneur ini terkandung dengan jelas dalam lafazhوَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (mengamankan mereka dari ketakutan).Dalam ayat ini, Allah dengan tegas menjelaskan bahwa hanya Dia-lah yang memberikan rasa aman. Risiko sebesar apa pun tidak akan mampu membahayakan manusia kecuali atas kehendaknya. Rasulullah bersabda
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَئٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَئ ٍلَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah sesungguhnya bila umat manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.Begitu pula ketika mereka berkumpul untuk membahayakan kamu, maka mereka tidak akan mampu membahayakan kalian kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kamu”. (HR. Al-Turmudzi)
Oleh karena itulah, seorang entrepreneur harus berani menghadapi risiko serta mampu mengelolanya berdasarkan kadar kemampuan serta pengetahuan yang dia miliki. Dalam ilmu manajemen hal semacam ini sering disebut dengan calculated risk taking. Selebihnya, dia harus menyerahkan risiko yang berada di luar jangkauan kemampuan serta pengetahuan mereka kepada Super Manager yang telah mengatur semuanya yaitu Allah SWT.Hal tersebut sesuai dengan pendapaat Al-Baihaqi yang mengatakan bahwa, Tawakkal adalah usaha seseorang mencapai sesuatu sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan dalam hatinya dia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Menurut penulis, ada hal menarik yang perlu kita cermati dari susunan ayah yang terdapat dalam sūrah Quraisy di atas.Di mana dua ayat pertama, Allah menjelaskan tentang usaha suku Quraisy dalam mencapai kesuksesan di bidang bisnis.Sedangkan dua ayat terakhir Allah menegaskan tentang konsep Hakikat yang merupakan landasan dari Tawakkal.Hal tersebut menegaskan bahwa Tawakkal harus dilakukan setelah manusia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil yang mereka tuju. Tawakkal yang tidak diiringi oleh usaha keras tidak lain adalah sikap konyol yang tidak sesuai dengan perintah berusaha yang telah diperintahkan oleh Allah dan telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itulah, konsep Tawakkal tidak pernah bertolak belakang dengan konsep etos kerja yang banyak diajarkan dalam ilmu manajemen modern.
Banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa Tawakkal itu harus dilaksanakan setelah kita berusaha, di antaranya adalah 
عَنْ أَنَسٍ بنِ مَالِكِقَالِ جَاءَ رَجُلٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَدَعُهَا وَأَتَوَكَّلُ ؟ فَقَالْ: " اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ "
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, datang seorang lelaki kepada nabi dengan membawa untanya. Kemudian lelaki tersebut bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah bolehkahsaya melepaskan unta ini kemudian saya bertawakkal.Rasulullah menjawab “ikatlah unta kamu dan bertawakkal-lah”. (HR. Al-Thirmidzi dan al-Baihaqi)
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Dari Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda, andaikan kalian bertawakkal dengan sesungguhnya kepada Allah, maka Allah akan memberi kalian rizki sebagaimana burung. Di mana burung setiap hari berangkat pagi dalam keadaan lapar dan datang pada sore hari dengan perut kenyang” (HR. Al-Thirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Dalam hadits pertama Rasulullah dengan tegas melarang seseorang yang ingin melepaskan untanya karena alasan tawakkal.Sedangkan pada hadits kedua, Rasulullah memberi gambaran tentang sikap tawakkal dari burung yang diiringi oleh usaha dia keluar dari sarangnya pada pagi hari untuk mencari makan.
Secara sederhana hikmah-hikmah yang terkandung dalam Sūrah Quraisy yang sudah dibahas sebelumnya, dapat penulis sederhanakan dalam tabel di bawah ini.
Tabel Ringkasan Hikmah dalam Sūrah Quraisy beserta Teladan Rasulullah dan Quraisy
 
Ayat ke-    Lafazh    Hikmah yang Terkandung    Teladan Rasulullah dan Quraisy      
Ayat Pertama    اِيْلَاف    Ketekunan, Pembelajaran serta pembiasaan dari kecil    Rasulullah sudah memulai bisnis sejak usia 12 tahun dan berlangsung selama ± 25 tahun      
    قُرَيْش    Brand Equity dan Master Brand    Rasulullah sejak kecil sudah memiliki Brand “Al-Amin”      
Ayat Ke-Dua    رِحْلَة    Ekspansi ke luar, membangun network, serta keahlian diplomasi dan negoisasi     Jaringan bisnis Rasulullah meliputi Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dansentra dagan lain di Jazīrah Arab      
    اَلشِّتَاء وَالصَّيْف    Market Segmentation    Suku Quraisy melakukan “segmentasi geografis”      
Ayat Ke-Tiga    فَلْيَعْبُدُوا    Balance antara Bisnis dan Ibadah. Bahkan bisnis digunakan untuk dakwah    Hasil bisnis Khadijah istri Rasulullah untuk dakwah      
    اَلْبَيْت    Positioning    Positioning Quraisy sebagai “Ahlu Bait Allah”      
Ayat Ke-Empat        Secara umum tentang tawakkal yang disertai usaha keras    Sikap Tawakkal Rasulullah sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga tidak pernah takut menghadapi risiko apapun karena beliau yakin bahwa Allah selalu bersamanya.      
    وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ    Calculated Risk Taking         

Referensi:

Ahmad, tanpa tahun, musnad Ahmad, Mauqi’ al-Islam dalam al-Maktabah Al-Syamilah 3.2
Al-Baihaqi, Ahmad bin al-Husain, 2003, Syu’ab al-Imān, Riyādl: Maktabah Al-Rusyd li Al-Nasyr waAl-Tauzi’
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il, 1419H, Shahih al-Bukhari, Riyadh: Dār Al-Salām dalam al-maktabah Al-Syamilah 3.2
Al-hakim, tanpa tahun, Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahīhain,Mauqi’ Jāmi’ Al-Hadīts
Al-Marāghi, Ahmad Mushthafa, 1998, Tafsīr al-Marīghi, Mesir: Syirkat Maktabah wa Mathba’ah al-Halabi
Al-Qurtubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad, 2003, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān, Riyadl: Dār ‘Ālam al-Kutub
Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, Riyādh Al-Shālihīn min Kalām Sayyid al-Mursalīn dalam al-Maktabah Al-Syamilah 3.2
Al-Suyūthi, Jalāl Al-Dīn, tanpa tahun, Al-Durr al-Mantsūr fi Al-Ta’wīl bi al-Ma’tsūr, Mauqi’ Al-Tafāsīr
Al-Turmudzi, Muhammad bin Isa, tanpa tahun, al-Jāmi’ Al-Shahīh Sunan Al-Turmudzi, Bairut: Dār Ihyā’ Al-Turāts al-‘arabi
Al-Thabrani, tanpa tahun, al-Mu’jam al-Kabir, Multaqa Ahli al-Hadits dalam al-Maktabah Al-Syamilah 3.2
Al-Zamahsyari, Abul Qāsim Mahmūd, 1983, al-Kasysyāf ‘an Haqā’iqAl-Tanzīl wa ‘Uyūn al-Aqāwīl fi Wujūh Al-Ta’wīl, Bairut: Dār al-Fikr
Al-Zuhaili, Wahbah, 1998, Tafsīr al-Munīr fi al-‘aqīdah waAl-Syarī’ah wa al-Manhaj, Bairut: Dār al-Fikr
Antonio, Muhammad Syafi’I, 2007, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager, Jakarta: ProLM Centre
Amiruddin, Aam, 2004, Tafsir Al-Quran Kontemporer, Bandung: Percik Press
Astamoen, Moko P., 2005, Entrepreneur dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia, Bandung: Alfabeta
Ciputra, 2009, Ciputra Quantum Leap: Entrepreneurship Mengubah Masa Depan Bangsa dan Masa Depan Anda. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Deliarnov, 2005, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Departemen Perdagangan Republik Indonesia, Neraca Perdagangan dengan Negara Mitra Dagang, Diakses pada Senin 15 Februari 2010
Gunara, Thorik dan Sudibyo, Hardiono, 2006, Marketing Muhammad: Strategi Bisnis Nabi Muhammad dalam Memenangkan Persaingan Pasar, Bandung: Takbir Publishing House
Hendro dan Chandra, 2006, Be a Smart and Good Entrepreneur, Bekasi: CLA Publishing.
Ibnu Katsīr, Isma’il bin Umar, 1999, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhim, Dar Thaybah li al-Nasyr waAl-Tauzī’
Ibnu Majah, tanpa tahun, Sunan Ibnu Majah, Mauqi’ Wizārah al-Awqaf al-Mishriyyah, Vol 2
Kertajaya, Hermawan, 2004, Seri 9 elemen marketing: on Brand, Bandung: PT Mizan Pustaka
                , 2004, Seri 9 elemen marketing: on Positioning, Bandung: PT Mizan Pustaka
                , 2004, Seri 9 elemen marketing: on Segmentation, Bandung: PT Mizan Pustaka
Lamb, C.W, Hair, J.F., dan McDaniel, C., 2001, Pemasaran, Jakarta: Salemba Empat.
Muslim, Abu al-Husain, tanpa tahun, Shahih Muslim, Bairut: Dār al-Jiyal dalam al-Maktabah Al-Syamilah 3.2
Santoso, Amin, Utsman bin Affan, www.majalahnh.com/.../162-indiva-media-kreasi-qtidak-berhenti-di-buku-sajaq.pdf, ditulis pada Jum’at 20 November 2009
Supriyono, Rano, sedikit dari banyaknya bukti kekayaan shahabat, dikutip oleh Al-Rayyan Minggu 21 Jun 2009
Thanthawi, Muhammad Sayyid, tanpa tahun, Al-Tafsīr Al-Wasīth, Mauqi’ Al-Tafāsīr
Yayasan Penyelenggara Perterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1971, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: hadiah dari Khadim al-Haramain Al-Syarifain Raja Fahd ibn ‘Abd al’Aziz Al-Sa’ud

* diambil dari buku “TAFSIR EKONOMI KONTEMPORER” karya penulis
 


Dibaca 1524